Matematika lebih tepat kalau kita kategorikan
sebagai bahasa, karena matematika itu adalah alat kita untuk bisa berkomunikasi
dengan lebih baik.
Jika kita ingin melihat konsistensi dengan
matematika yang kita pelajari di tingkat SMP, SMA, dan seterusnya, maka
itu lebih tepat dibilang
, bukan
. Lha tapi
bukannya "
itu
kan 4-nya ada 6, berarti secara bahasa lebih enak ngomongnya
aja
dong bukan
?". Nggak
juga, coba deh kalo di matematika tingkat lanjut lo mencoba untuk menulis
. Pasti
lo akan lebih terbiasa menulisnya jadi seperti ini, kan?


Al-Khawarizmi
dikenal sebagai bapak Aljabar memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah
karya-karya Yunani kuno. Kisah angka nol Konsep bilangan nol telah berkembang
sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai
ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang
dari waktu ke waktu. Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan
India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan
bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila
dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan,
dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh
bilangan no,l “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”.

